Salam

Ihwal kesumba langit hari ini.

Sepetak ruang hening yang kuintip dari celah jendela. Gigil tanah basah sisa hujan semalam. Mimpi berpamitan pada segerombol embun. Kabut kecil yang hinggap pada helai daun jambu yang bermalasan menggosok matanya. Menguap. Masih mengantuk, bisiknya.

Warna-warna menggeliat. Rindu-rindu selewat.

Selamat pagi, kopi. Kecupan pertama pada tetesmu. Nikmat sekali.

Advertisements

Akhir Minggu Yang Basah

Renyai turun tiada henti. Sabtu ini mendung merangkum dan mendekap seketat-ketatnya. Tak jua ia sibakkan selimutnya atas keseluruhan langit. Pohonan dari jambu hingga mangga merunduk saja, kesulitan tengadah. Daun-daunnya kuyup. Pucuk-pucuk muda gamelina dan mahoni belum terlalu kuat menahan dingin, mereka berbagi gigil. Dalam erang angin, perdu kaliandra menggumam merdu menyanyikan lagu awan kelabu. Rintik menitik. Alam seperti sedih, tak lagi mencabar mulutnya layaknya biasa saat kemarau kemarin.

Pagi hanya sanggup membuka matanya setengah nyalang. Sudah jam delapan dan terang tanah cuma sampai seperti subuh intensitasnya, tidak naik lagi. Taram-temaram. Para karyawan berangkat kerja berbasah-basahan, seiring angkutan umum bergerombol bermalas-malasan. Jas hujan melambai murung dari segala arah, sementara di balik jendela mobil tidak sedikit penumpang masih menguapkan kantuk dari mulutnya.

Semua adegan itu menjadi sempurna jika dibungkus hujan. Jarum sekon seperti melambat larinya. Quartz in slow motion. Teori Relativitas Einstein yang mengambil bentuk di sebuah kota kecil yang payah kena basah. Padahal jumlahnya sama dengan seluruh putaran di dunia, duapuluh empat jam. Tapi disini rasa-rasanya waktu bergerak pelan. Apa-apa bergerak pelan. Orang berjalan di bawah bubungan rumah, kumbang daun sedang terbang, pesan teks yang terkirim, kucing mengeong, air yang meluncur di ujung payung, senyum petugas kebersihan, semuanya bergerak pelan.

Dan kemudian, listrik padam.

Aliran kehidupan ke kota kami ini dipasok dari sebuah pembangkit raksasa nun jauh disana. Beratus kilometer jaraknya. Mengandalkan sekawanan diesel yang sebenarnya tak ada hubungan antara suplai bahan bakar dan anomali cuaca. Hanya saja perjalanan alirannya hingga sampai kesini berlangsung seperti theme song Ninja Hattori, sebuah film kartun anak-anak yang populer di zamannya, “mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera…” Walhasil, ketika hujan turun mengguyur, bergeming juga tebing-tebing, bergeserlah permukaan tanah yang miring, longsor. Dan tiang-tiang pancang, kabel-kabel, lempeng-lempeng solid besi, semua konstruksi penyokong yang semula erat mencengkeram, ikut menggelosor dan tercerabut hingga putus sambungannya.

Hampir seharian kota tidur siang. Berkemul kabut dalam suram. Nyaris tanpa suara.

Maka tak heran jika kemudian sekolah-sekolah membubarkan muridnya lebih awal. PR-PR dituliskan. Nasihat-nasihat disampaikan. Pembiasaan Dzuhur berjamaah dipesankan untuk dikerjakan di rumah saja. Sekejap setelah kode bel yang langka dibunyikan, ratusan kepala bergegas menghampiri pintu gerbang, sebagian berlarian didera rinai, bercipratan. Kegaduhan bersambut dengan kepala-kepala orangtua mereka yang menjemput. Kesempatan istimewa. Siapa yang rela anaknya keluyuran dulu kemana-mana di tengah hujan sebegini rawan?

Kantor-kantor pemerintah pun membuka pelayanan seadanya. Cuma beberapa orang bercecer di setiap ruangan. Ada yang mengobrol, ada yang menekuni sheet kertas kerja, ada yang berhitung menyelesaikan tagihan-tagihan, ada yang membaca, ada yang membuang pandangan ke luar jendela. Sungguh tak terlalu terlihat semangatnya. Bagaimana bisa semangat berada di kantor tanpa listrik, tak bisa membuka komputer untuk sekedar bermain kartu, ludo, atau catur. Bahkan ponsel pun menganggur. Para petarung Mobile Legend beristirahat dulu.

Hingga tiba saat jam pulang, semua berkemas. Satu-satu saling berpamitan, melambaikan tangan. Punggung-punggung menjauh. Rumah menunggu.

Begitulah. Ritme kota kecil kami, tanpa listrik, dibawah hujan. Merayap. Memanjat senyap.

Menuju sore, listrik yang mati hidup kembali. Semesta bangkit, bangun dari tidur siangnya yang lama. Orang-orang berpindah dari kotak yang satu ke kotak yang lainnya. Kamar, dapur, teras, ruang keluarga. Listrik telah menggerakkan sendi-sendi tubuh mereka. Sekeliling menggelenyar diterpa cahaya. Lampu indikator dispenser berubah warna, dari merah ke kuning kehijauan, mengirimkan air panas dari surga. Dan meruaplah aroma seduhan di udara. Demikian pula segala benda elektronik yang ada di rumah kembali mengatur napasnya. Dada kulkas naik-turun, pun pemanggang roti. Televisi menayangkan acara prime time menjelang senja. Level baterai telepon genggam meningkat seiring arus yang mendesir halus di tubuhnya. Komputer berdentam-dentam menembakkan peluru dari Call of Duty, sementara yang jinjing mengonggok saja, berkelindan dengan chargernya, menunggu giliran dinyalakan.

Hidup dimulai lagi dibawah lampu-lampu LED. Cerita pendek dalam benak bergesa minta dituangkan. Kopi yang diseduh di sebuah gelas warteg pun direguk, diiringi decap. Dan tetap saja, diluar masih hujan.

 

Jampangkulon, 24032018

 

The Trees

Pohonan itu berdiri di kelebat sisa berkas-berkas matahari di senja semula

Menadahi bilah-bilah hujan yang hunjam ke tanah humus hitam

Mencipta bayangan yang memanjang hingga kabur dan menguap

 

Pohonan itu berbisik pada ujung pucuk-pucuk muda

Malu-malu meningkahi serak suara reranting kering gemerisik, berkersikan

Mereka mencakap angin Maret yang jenuh

Hingga tiba saat sunyi mengajaknya pulang

Pada kenang

 

Pohonan itu berjajar tanpa jeda

Untuk sekedar memberi ruang bagi musim untuk membaui rambutnya yang lembab

Dan belum pernah ada penghujung hari menutup mata dengan sedemikian senyap

Sedemikian senyap

Pulang

Setelah sekian tualang panjang yang meluluhlantakkan benak, mengapa tidak menghambur padaku. Sini, akan ku usap dahimu. Mengenyahkan peluh dari situ, mendaratkan kekal rindu pada alismu, kerjap harap di kelopak matamu.

Kepulangan butuh rumah. Ruang-ruang tempat penat berbenah. Sini, masuklah ke pelukanku. Akan kudekap setiap kalimat yang terkemas di tubuhmu, rebahan selepas pergi jauh dari luar kota, oleh-oleh kata-kata yang tercecer sepanjang ruas jalan dan buku-buku jarimu.

Aku mampu menjadi titik. Tempat garismu mengaso sebentar, lalu bertolak lagi, dan akan tetap menjadi titik dari setiap berangkatmu berikutnya.

Sini, menetap saja.

 

Laut Itu Lagi-lagi

Aku mengejamu di semburat sore yang mengelus paras laut dan memulangkan camar dalam kesamaran debur. Aku mengejamu di segenap bulir garam lekap pada lempang pelepah kelapa, hinggap pada guguran helai daun ketapang, sebagian lekat sebagai kristal pada dayung perahu dan kapal. Aku mengejamu pelan-pelan ketika matahari merah sempurna menyelam, mega-mega beringsut menghitam dan langit temaram kemudian bintang-bintang menumpahkan kerlip ke air yang gemerlap.

Aku membacamu pada garis pantai yang menjauh menukik pada gerumbul bukit lalu seribu sekian partikel debu terangkat oleh angin dalam geletar kepak sayap-sayap kecil serangga. Aku membacamu saat redup rembulan bertengger di ufuk lantas mengangkasa bergeser memanjat menyebarkan nyala pada sempadan bakau menjelmakan berjejal bayang. Aku membacamu pada lapis-lapis tipis kabut rahasia, sayup memburamkan warna jembatan yang menggigil dalam dini hari yang kusam, dimana di sana seorang pejalan mengepulkan lingkar-lingkar asap dari mulutnya seperti mengirimkan pesan.

Aku mendarasmu pada deru ombak yang tiada lelah mengirim buih putih kecoklatan menjumpai gugusan karang mengecupi pasir pantai membisiki cangkang kerang-kerang yang terdampar. Aku mendarasmu pada sihir udara pada lelap daratan, dalam sunyi belukar dalam senyap malam. Aku mendarasmu ketika semua diam.

Aku memelukmu sebab sejurang apapun rentang jarak menjauhkan sukma kita senantiasa berdekatan.

 

*Kamu, yang menyumbang bagian terbesar dari puisi, terima kasih.

Daun-daun Gugur di Halaman

Daun-daun gugur di halaman. Ku curi seiris ingatan tentang pagi itu, mengadunya dengan udara di mulutmu agar setiap kali aku menciummu, aku bisa mencecap manisnya yang lumer meluncur melewati kerongkongan, lalu pijarnya nyala lantas bara. Terbakar? Semesta dadaku gemeretak menghangat. Ah.

Daun-daun gugur di halaman. Lidah-lidah api yang melambaikan sisa silap di bulu-bulu mata berkerjapan. Mengapa kemarin amat lampau rasanya? Detak jantungku yang nyaris hangus kau abadikan di telingamu. Aku-cinta. Aku-cinta. Aku-cinta. Terus saja begitu degupnya. Iya?

Daun-daun gugur di halaman. Lelatu berterbangan serupa kupu-kupu hitam. Detik-detik membuat padam, bukan? Dan dengan serta-merta aku membenci senja yang turun awal, tanpa tahu alasannya.

 

Tetes Detik

Aku nanar menatap lena warna-warna yang tidur di matamu. Saat kusentuh, ribu kupu terbang ke tepi. Dan membukalah ruangan-ruangan tempat semayam rindu semalam. Embun enggan beranjak, masih berkelam-kabut dengan pagi yang terbit dari bibirmu. Kubaca setiap kata dalam diam, seraya pejam. Kukecup lalu lebur lalu serbuk. Rasa puisi yang tak terperi manisnya, mabuknya.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.*

 

 

*Sapardi Djoko Damono