Jangan Minta Puisi

Kamu sudah sirna

Menjelma sepatah mantra

Merapalnya di sekitar azimuth semesta

Advertisements
Featured post

Penggali Sumur

“Berapa lama lagi?” Sahru berteriak. Sebelah tangannya dibuat corong dan diarahkannya suaranya supaya meluncur ke kedalaman rongga sumur, sejenak memantul-mantul di dindingnya yang semu basah seperti mengolok-oloknya.

Terdengar bunyi-bunyian gaduh dari dalam sumur. Geming Anjas. Bunyi-bunyian itu melesat ke arah sebaliknya. Meniti batu cadas dan lembap tanah. Merambat ke atas. Mencapai telinga Sahru yang mukanya pelan-pelan mencapai pemahaman.

Lalu yang terdengar kemudian adalah samar-samar suara balincong menghantam bebatuan. Ritmis. Redam. Anjas berteriak tidak jelas lagi. Sigap Sahru menurunkan kerekan. Tali karet mengulur turun sepanjang lubang. Terdengar suara menggaruk. Kerekan bergerak-gerak. Sahru menarik satu ember penuh pecahan batu dan gumpalan tanah ke permukaan. Melepaskannya dari kait katrol, menumpahkannya ke timbunan hasil penggalian yang mulai menggunung di dekat sekelompok pohon pisang klutuk di sudut kebun.

Sudah dua hari mereka bekerja. Dua orang penggali sumur tradisional di tengah serbuan para juragan sumur bor yang bersenjata mesin berbahan bakar solar. Tapi rejeki tak pernah tertukar. Kemarau menghantarkan kesulitan yang memerlukan keahlian mereka; menggali sumber air baru karena sumber air lama sudah berhenti menyokong kehidupan. Pada musim begini, Tuhan tahu siapa yang paling membutuhkan.

***

Sore itu Sahru sedang asik merokok kretek di dipan depan rumahnya. Setelah lebaran kemarin, ia tidak berangkat lagi ke Jakarta. Meski banyak bangunan baru didirikan disana, mandornya mengatakan bahwa kuli bangunan juga mesti bersaing. Proyek sekarang didominasi orang aceh dan nusa tenggara. Ia harus mengalah. Tenaganya belum diperlukan.

“Keur nyalse, Jang?” Hampir terbang ia dari tempat duduknya karena kaget. Sekonyong-konyong Pa Haji Riswan sudah berdiri di sampingnya.

“Iya, Pa Haji. Saya sedang tidak ada yang dikerjakan. Nasib buruh serabutan memang begini.”

“Kalau sedang menganggur, saya ingin dibuatkan sumur baru. Oleh berdua saja, bisa? Ku Ujang wae jeung si Anjas.” imbuh Pa Haji Riswan.

Sahru gembira. Menggali sumur berarti menggali sebuah peluang pekerjaan untuknya. Berarti pula akan ada uang bayaran untuk membeli rokok kretek yang suka dihisapnya. Juga uang belanja untuk Ruslianih, istrinya yang belum setahun dinikahinya.

Jadilah besok paginya Sahru menyambangi rumah Pa Haji Riswan berdua Anjas. Berbekal cangkul, balincong, karung, ember, dan satu set katrol sederhana bertali karet yang biasa digunakan untuk sumur timba.

Anjas berperawakan tegap. Ototnya besi, kulitnya tembaga. Rambutnya kaku seperti kawat dan dibiarkan berdiri menantang langit. Kalau diikutkan dalam karnaval tujuhbelasan, ia cocok diberi kostum tokoh Dragon Ball. Tapi kalau didandani normal, ia lebih mirip tentara. Hanya saja semenjak lahir pita suaranya tidak berfungsi, ia pun ditakdirkan tidak bisa bicara.

Pa Haji Riswan lah yang menentukan tempat dimana sumur baru itu akan dibuat. Memutari rumahnya, mencari-cari titik air yang paling dekat dengan muka bumi. Mulutnya komat-kamit, matanya nyalang. Dengan tongkatnya ia mengetuki setiap jengkal tanah pekarangannya. Dari mulai los kayu bakar, gerumbul perdu harendong dan talas bogor berdaun lebar-lebar, jajaran pagar kacang panjang dan kecipir siap petik, sampai ke kandang ayam pelung di sudut agak tersembunyi belakang dapur.

Matahari telah merangkak sepenggalah ketika ia berhenti di sebuah titik agak lapang, sedikit ternaungi rimbun pohon angsana dengan rumpun-rumpun soka berderet di bawahnya. Matanya terpancang. Tongkatnya terpancang.

“Siap?” Komando Pa Haji Riswan.

Sahru menganggukkan kepala.

Anjas mengayunkan cangkulnya.

***

Hari ketiga, balincong Sahru dan Anjas membenam semakin dalam. Lapis demi lapis tanah dan batuan sudah mereka gerus. Hitam, keras, gembur, coklat, likat, abu-abu, kuning, pasir, kebiruan, kasar, kristal, belum juga terlihat tanda-tanda air memancar.

Keduanya bertukar posisi bergantian. Sahru menggali, Anjas mengulur dan menjemput ember dengan kerekan, mengangkut berangkal dari dalam tanah. Anjas turun, Sahru naik. Begitulah berulang sepanjang hari.

Ketika giliran Anjas membenam di bawah, Sahru memakai waktunya untuk mengaso sambil duduk mencangkung di atas bilah-bilah papan. Langit murni sekali tanpa sekelumit pun awan mencampuri birunya. Sahru lanjut melamun. Ingatannya sedemikian liar melesat kesana-kemari. Tak hirau situasi dan keadaan, Sahru malah mengenang hari perkawinannya dengan Ruslianih, mengenang dengan jelas detik-detik istrinya itu mengecup tangannya setelah ijab kabul dan betapa ia mengaguminya dalam balutan baju adat sunda sederhana hasil menyewa dari salon tetangganya. Sahru tersipu tanpa sadar.

Tiba-tiba kerekan bergerak-gerak. Anjas memanggil lewat katrol.

Sahru meloncat. Menarik kerekan. Tapi beban katrol yang ringan membuatnya keheranan. Benar saja, ember kotor berlumur tanah itu tiba di mulut sumur dalam keadaan kosong.

“Anjas! Anjas!” Sahru menyeru sambil membungkukkan badannya. Suaranya menggema. Terperangkap di dasar sumur. Dilongokkannya kepalanya, dan matanya hanya bersambut lubang gelap menganga di dekat ujung kakinya.

Kerekan bergerak-gerak lagi. Lebih kencang. Lebih gemeratak. Sahru mendeduksi perkiraan-perkiraan dalam kepalanya. Ia menyimpulkan bahwa Anjas meminta ember itu diturunkan kembali. Maka ia pun menurunkannya kembali.

Hening.

Sahru berusaha lebih keras melongokkan kepalanya ke dalam sumur. Seekor elang ruyuk melintas terbang rendah di atas pohon angsana. Suara sayapnya mendesau jelas di tengah siang yang senyap.

Terdorong intuisi, Sahru beranjak. Ditetaknya satu demi satu ceruk tanah yang mereka ukir di dinding sumur. Ceruk yang membentuk sengkedan untuk tempat mereka turun dan memanjat. Sahru pelahan menenggelamkan diri ke kedalaman bumi.

Perjalanan itu serasa seabad untuk Sahru. Jantungnya bertalu gemas. Perasaan khawatir akan keadaan Anjas dan udara yang menipis, menekan dadanya.

Makin ke bawah, Sahru mulai terengah. Bajunya basah oleh uap dari dinding sekelilingnya dan dari napasnya sendiri. Ia merasa kepalanya berangsur memberat ketika telapak kakinya menyentuh permukaan yang lebih rata dan licin. Ia sudah mencapai dasar sumur.

Dasar sumur itu melengkung. Diameternya cukup untuk dua orang dewasa berdiri, bersempit-sempit. Sahru menegaskan pandangannya. Pupil matanya mulai membiasakan diri dalam gelap. Ia menggapai. Mencari-cari. Meskipun tanpa melakukan itu, ia telah tahu, Anjas tidak ada disana.

Sahru berusaha mencerna berbagai kemungkinan. Dari yang paling masuk akal seperti Anjas diam-diam mengendap naik tanpa sepengetahuannya waktu ia melamun tadi, sampai yang paling muskil seperti ada genderuwo yang menggondol Anjas gara-gara ia lengah waktu menunggui kerekannya.

Berpikir dalam keadaan minim udara seperti itu membuat Sahru mengantuk. Otaknya melambat. Nadinya melambat. Napasnya melambat. Tungkai kakinya melemah dan ia terduduk bersandar bertelekan dinding sumur yang lembap. Dan saat kesadarannya sudah berkurang seperti itu, samar-samar ia mendengar suara memanggil namanya.

“Sahru, temanku. Tinggal disini bersamaku.”

Jelas sekali di telinganya. Susah payah Sahru memokuskan penglihatannya. Dalam keterbatasan daya akomodasi pupilnya, ia melihat wajah Anjas tersenyum padanya. Ia begitu nyata, begitu dekat, hingga Sahru hampir bisa melihat lidahnya berputar ketika Anjas meneruskan kalimatnya.

“Hayu urang babarengan mulih ka jati, mulang ka asal. Bersama-sama kita kembali pada keabadian.”

Dan di detik-detik terakhir kesadaran tersisa di rongga kepalanya, Sahru melihat dari balik bahu Anjas, sedikitnya ada empat-lima orang lain yang tidak dikenalnya, sedang berdiri menatapnya, tersenyum dengan cara yang sama. Ganjil, tapi nyata.

***

Pa Haji Riswan menyaksikan dari kejauhan, dari bangku panjang tempat ia sedang berbaring menyelonjorkan kaki dan meluruskan pinggang, kerekan itu bergoyang sebentar. Angin kemarau kali ini memang berhembus lebih kencang dari biasanya, batinnya sambil sedikit bertanya-tanya mengapa Sahru dan Anjas pulang tanpa mengemasi peralatan mereka.

“Pasti biar besok tidak usah repot lagi.” ia bergumam pada dirinya sendiri. Matanya menutup pelahan, diayun angin, dalam buaian siang yang sunyi.

Seekor elang ruyuk hinggap di pohon angsana. Di dahan paling tinggi.

 

 

 

Renjana

Sebulan terakhir ini setiap siang penuh dengan sinar matahari. Musim kering yang kersik menggamit halaman, menjentik buah-buah kemuning yang merah masak. Daunan berserak, saling berkisik dan resah didera angin. Kemarau menelusup di celah terbuka kulit pokok pohon mangga. Bunga-bunganya bergoyang meriah ditingkahi gelantungan banyak bakal buah kecil. Alam berbicara serentak. Dengung halus sayap kumbang, geliat sulur sirih memanjat pilinan bambu menuju atap, keretak buku-buku ranting suplir di pot-pot bekas kaleng cat kiloan, tak-tuk paruh pipit-pipit dan terkadang beberapa prenjak mematuki lumut di atas bubungan. Semuanya harmonis, tapi sedih dan menyesakkan.

Renjana menengadah. Wajahnya baur oleh kenangan. Matanya mencari-cari di keluasan angkasa. Barangkali, ya, barangkali ia bisa melihatku dan melambaikan tangannya, begitu mulutnya senantiasa berbisik, antara gumam dan do’a.

Hampir setengah tahun ibunya telah pergi. Lagi. Khusus untuk kali ini, jawabannya itu-itu saja. Sorga. Bahagia. Itu yang selalu dikatakan Si Prenjak jika ia bertanya kemana dan bagaimana keadaannya. Si Kepik juga mengatakan hal yang sama. Bahkan Si Ulat bulu, atau Si Burik, ayam betina milik Mbah Jiwo, dukun patah tulang tetangganya. Semua mengatakan hal yang sama.

Sorga adanya di langit. Isi kepalanya yang kecil belum sanggup menerjemahkan lebih maknawi dari itu. Di tempat yang tinggi, indah, bersih, sejuk, dan ibunya bak pahlawan perempuan sudah berhasil menaklukkan penderitaan dunia bawah dan naik kesana. Renjana bangga sekali akan hal itu. Satu-satunya hal yang dia sesali adalah ibunya telah khilaf mengajaknya ikut serta.

Baru sebelas tahun, tapi Renjana terhitung tinggi untuk anak-anak seusianya. Rambutnya kemerahan. Kulitnya hitam. Matanya juga hitam dengan alis tebal dan bulu mata panjang-panjang seperti bulu mata unta. Hidungnya besar. Mulutnya lebar. Suaranya berat dan dalam. Dengan latar belakang ibunya yang menghabiskan berpuluh tahun hidup sebagai TKW di Arab Saudi, penampilan fisiknya itu tidak lagi menimbulkan kemasygulan bagi para tetangganya. Dari cerita mereka pula Renjana mendapat gambaran ibunya untuk pertama kalinya. Perempuan pendiam berambut hitam terurai, berkulit kuning dengan mata segaris. Karena itu Renjana berkesimpulan lantas berangan sendiri bahwa ia mirip ayahnya, sedangkan seumur hidup Renjana tidak pernah tahu bagaimana rupa ayahnya.

Di sekolah, ia selalu merasa terpencil. Pada jam belajar ia akan duduk mencangkung dengan janggal di kursinya yang tak berteman. Ada enam belas orang anak di kelasnya, semua berpasangan, kecuali ia dan seorang anak laki-laki penuh kudis yang bahkan gurunya pun seperti enggan mendekat. Pada jam istirahat, ia akan pergi ke dekat rumpun bunga sepatu di sudut lapangan, duduk menghabiskan waktu disana dengan roman ganjil. Tak jauh darinya, anak berkudis itu menggaruk-garuk tiada henti. Pada jam pulang, dengan canggung ia akan menyampirkan tas kain lusuh di pundaknya yang melengkung gelisah, tersaruk-saruk menyusuri jalan kerikil menuju rumah bibinya di ujung kampung. Anak berkudis di belakangnya, berlari-lari anjing sambil menggaruk-garuk. Masih tiada henti.

Renjana hidup serumah bersama bibi beserta lima orang sepupunya. Bi Kanti, adik ibunya, yang mengurusnya semenjak Renjana masih berupa seonggok bayi merah. Ibunya pulang dari negeri yang jauh dengan beban perut buncit yang payah, meletuskan sesosok makhluk rapuh ke dunia dengan berdarah-darah, lalu lenyap, lalu pulang sebentar, lalu menghilang lagi ke tempat antah-berantah yang berbeda. Begitu terus hingga Renjana beranjak menjadi anak perempuan yang linglung, terlambat bicara, dan sering memiringkan kepalanya.

Hidup dengan keharusan mengurus enam anak bukan hidup yang mudah untuk Bi Kanti. Lima anak yang dihasilkan dari rahimnya sendiri, dan satu lagi seperti tunas umbi-umbian muncul begitu saja dari dalam tanah, ditumbuhkan kakak perempuannya yang malang. Suaminya minggat mungkin karena kecarutmarutan itu. Dan Bi Kanti pun dengan ogah-ogahan membesarkan keenamnya sendirian dalam rumah tua yang suram peninggalan neneknya.

Pengecualian untuk Renjana, karena ia berbadan paling besar, ia bertanggung jawab menyelenggarakan keseluruhan rumah. Membersihkan halaman, memasak, mengisi bak air dari sumur timba di belakang, melipat baju-baju, mengusir tikus, membetulkan jemuran, termasuk memijat Bi Kanti saat malam. Badannya yang besar itu tidak boleh lemas, tidak boleh masuk angin, tidak boleh lelah. Kupingnya yang camprang harus setia menyimak keluhan Bi Kanti atas naiknya harga sembako, anak-anak lelaki kecil nakal yang suka melempari mangga, omelan rutin pada beban yang tiba-tiba ditimpakan kakak perempuannya berupa anak aneh tidak berguna, atau cerita manis tentang hidup bersama Mang Ujang yang sekarang tinggal pahitnya. Pun benaknya yang sederhana itu harus selalu siap menyediakan alasan bahwa jika Bi Kanti melayangkan tangannya atau membenturkan badannya ke dinding atau menggunakan gagang sapu untuk memukulnya, itu semata karena kesalahannya sendiri. Aku adalah kesalahan. Aku adalah kesusahan. Demikian hidup mengajarkan sesuatu padanya.

Renjana terbiasa tidak dianggap ada. Bi Kanti dan anak-anaknya hanya menganggap ia ada ketika menemukan beras raskin ditanak kurang air atau tempe goreng agak gosong di balik tudung saji. Salah satu dari mereka juga akan berteriak jika melihat baju basah terpuruk di tanah karena dicubit angin, lalu Renjana akan tergopoh-gopoh memungutnya, mengucek ulang, membilasnya, dan menggantungkannya kembali di rentang tali jemuran. Kali ini dengan ekstra hati-hati, dan ia harus melongokkan kepalanya sesering mungkin ke halaman, mengecek barangkali angin nakal itu kembali datang mengusik baju-baju hasil cuciannya.

Di satu siang yang cerlang itu, Renjana mengaso di kursi rotan usang yang menjogrok begitu saja di teras pekarangan. Hari ini tidak ada pemantik yang menyulut api kemarahan Bi Kanti. Satu-satunya api yang menyala hanya tungku yang menggelegak di dapur tempat ia sedang menjerang air. Renjana sedikit bisa bernapas lega.

Dalam diam, samar angin juli membuainya, mengacau pelan dalam desau di kupingnya. Wajahnya menengadah menantang keluasan angkasa. Langit biru tak berujung. Biru yang seperti mengirimkan gelombang bergulung-gulung ke matanya. Biru yang berdenyar menjauh-mendekat. Biru yang berdenyut dan menusuk-nusuk. Biru yang membuat mabuk. Setidaknya semua itu membuat Renjana merasa pusing. Kursi reyot yang didudukinya terasa bergoyang. Tanah di bawah sendal jepitnya terasa bergoyang. Kepalanya terasa bergoyang. Semakin lama semakin hebat. Genting-genting berhamburan. Ada lidah-lidah berwarna merah membumbung di atap rumah. Gaduh orang-orang. Tapi dunia Renjana mendadak senyap. Dipaksakannya memandang warna biru itu terus. Menembus langit, menembus sorga, demi melihat ibunya melambaikan tangannya. Dan, demi tuhan! Sesaat sebelum sepatah balok kayu menyala menghempas ke atas kepalanya, ia melihat sekilas awan-awan bergumul dan membentuk sosok berwajah ibunya. Bermata api, bersayap api, dan ia menyeringai, baru kelihatan ia juga bertaring api, mendekat dan mengulurkan tangan seakan-akan mengajak Renjana memanjat menemuinya.

Renjana ketakutan. Di ujung-ujung penantian bertahun-tahun akan pertemuan dengan ibunya, ia akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal bersama Bi Kanti. Semenyedihkan apapun itu.

Renjana berteriak memanggil Bi Kanti, tapi lindap api ibunya keburu menjilat. Ia merasakan hawa panas berebut memasuki setiap pori-porinya. Dalam gerakan lambat ia merasa segala sesuatu yang cair dalam tubuhnya berangsur mendidih.

Mendidih.

Renjana mendidih.

Lerai

Surya membenam di puncak pohon randu. Buahnya mekar sebagai rindu. Nadi semesta berdenyut pelan di leherku.

 

Dan sebentaran mata sore meredup. Jingga turun semayup.

 

Ujung hari jatuh di jemari.

Luruh.

Luruh.

 

 

*Selasa sore itu kamu milikku, 07082018

 

 

Candrakala

Rindu sekali menangkap gelak yang melompat dari matamu

Ketika temu disimpul hari-hari panjang

Kemarau berdeburan

 

Mari

Tautkan jemarimu di pipiku

Sungai-sungai berlari ke muara

Laun napas

Laut lepas

 

Semestaku menunggu

Gugur waktu

Eclipse (2)

Gerhana semalam jantungku menderap sendirian

Puisi sembunyi di balik sembilu yang mengiris sekian ratus rentang kita menjadi serbuk ratus dupa

Mantranya namamu

 

Lihatlah! Rindu melumat sepertiga langit

Mencumbu bulan pejam

Rona merah padam

 

Dadaku kabut

Mabuk

 

Mabuk

Cinta Paling Sunyi

Ceritakan pada kekasihku tentang cara mencintai paling sunyi ketika kepak puisi hanya sanggup sampai bisik.

Sayapnya lemah didera muskil.

Rindu-rindu serba serpih. Berpatahan di segenap helai langit, di siul angin kemarau bulan juli, di tanah memasir yang menyapa sepatu yang ku pakai berjinjit-jinjit tadi pagi.

Di ingatan tentang lezat rasa coklatmu yang ingin menjadi jauh, lalu mungkin pergi.

Ah, jangan. Jangan pergi.

Perihal Rindu

Senyummu melindap kabut

lampu-lampu merkuri kuning suram

pun pohonan berpelukan dalam bayang

pada bisik angin yang menggamit kelip nun jauh

langit yang lumer

keemasan

 

Senjamu itu kuendapkan di telapak tangan

 

Maka luruh

lepas

pelahan

 

Lalu

turun malam

Menepi

Gerimis sesudah magrib.

Langit bidang kosong dan bintang-bintang lemah berhamburan serupa remah di denyut senja.

Kabut melecut-lecut, sisa sore menggelepar pada setiap kerjap bulu matamu yang kuyup.

Tidak ada yang tertinggal perihal percakapan kemarin yang rakus melahap ingatan.

Menandai malam ini puisi bergerak sepanjang liku rindu. Rintih dan pelan.

Segala kerap.

Tandas ingin, tandas harap.

Deras

Langit sewarna cat air, mengurai perlahan. Ligas berlarian menjelma rinai hujan berderai di sepanjang bubungan. Jendela-jendela memburam. Percakapan barusan berlompatan bermain genangan.

Ada gigil di luar, di genting-genting basah, gemetar dan gulana. Rindu-rindu mengemas gerimis yang lekas. Di sana. Di pucuk-pucuk akasia.

Blog at WordPress.com.

Up ↑