Halo, Para Halley

Kepada Eta Aquarids yang tak bisa berlama-lama; tahukah ia?

Aku sendirian kepayahan meredakan debur dan hanya bisa mengirim geletar pelan pada mataku ketika denyar mengguyur dan mencelat-celat sepanjang langit dan terbakarlah ufuk dari Albali hingga Sadalmelik.

Gelisah angin mendidih di puncak malam yang nyaris menggelincir ke fajar. Rembang bulan. Kala rawan. Gumelaran! Seru para danghyang. Seribu meteor berjatuhan. Seribu cahaya berlesatan. Kerlap. Kerlap. Lalu padam.

Terbakar dadaku. Meski jauh tetapi rindu-rindu tetap menyimpul padamu. Sepenuh. Seluruh.

Advertisements

Catatan Satu Ramadan

Semacam tak sengaja, aku menengok merah yang sedang berdenyar-denyar di belakang rumah. Menyelinap lolos dari celah jendela, aku menemukan langit umpama seduhan karamel keemasan yang dituangkan cairan susu sembarangan di lapis-lapisnya. 

Itu baru langitnya. Belum harum tanahnya. Aku pun memutus untuk menghabiskan waktu sebentaran disana. Kebetulankah ini? Sekarang Ramadan sore pertama, dan matahari seperti turut berkhidmat, khusyuk mengajakku duduk di sebatang kayu lapuk dekat rimbun pandan.

Sudah sedemikian lama kenang disana dimakan kala. Gemerisik rumputan liar, gugus batu-batu hitam, beberapa perdu Sambung Nyawa sudah menjulang saja. Bulan yang mana terakhir aku menyentuhmu, Pohon Jeruk? Sudah besar kau rupanya. Berbunga pula. Semerbak sitrus yang menggoda. Hey, Nyiur. Haha. Masihkah keluarga Pak Tupai bersarang di lubang yang terdapat di pohonmu itu? Dan, Cabe rawit! Disitu kau? Sembunyi di kaki-kaki ketela. Aih. Ada jajaran ketela juga? Siapa yang menancapkan mereka hingga menggeliat mata-mata tunasnya?

Tak henti pandangku mengamat-amati. Tak henti aku menyapa sana-sini. Ubi jalar menutup permukaan bagian selatan. Bersambung dengan labu besar yang merambat hingga saung di pinggir kebun. Halaman belakang yang nyaris nyaman. Sayang kurang terurus.

Kuhela napas. Masa kecil memanggil. Bertalu-talu kenangan memukuli dadaku. Seakan bisa kulihat lewat sudut mata, kucingku berkejaran dengan kupu-kupu. Lucu.

Terimakasih, halaman belakang. Untuk sentiasa bersetia menjaga keping-keping kehidupanku. Untuk pohonanmu. Untuk daun-daun kering yang jatuh dan jarang kusapu. Untuk keluasanmu mencipta ruang tempat aku mengadu saat rindu seseorang seperti sekarang. Untuk diam-diam menyaksikan aku yang menangis pelan-pelan.

Sandyakala rebak. Magrib. Saatnya berbuka.

 

 

 

 

 

Melaut

Hari ini aku membaca pasir, ditingkahi santigi berbisik-bisik hingga tergelak daun-daun ketapang, karang menajamkan telinganya, dan lewat kepala gelombang yang berbuih duyung-duyung berdatangan untuk mendengarkan.

Rindu memang begini, selalu pasang.

Yang Berulang Tahun; Chairil

Sedari aku mendengar gempita pengalaman pertama menyitat puisi-puisi

di buku-buku sekolah menengah

di hari jasad berhenti mencari

di sepotong kue

sebutir ceri merah dan cemara menderai

 

Pekiknya tahan pada dada

lampau, lampau sangat

pada rasa jatuh cinta muda ia menghangat

kenangan pula

 

Terus tumbuhlah

berbait-bait sonata

hari ini hari pulang atau mati

sama-sama saja

 

Yang berulang tahun; Chairil

Selamat!

 

28 April 1949

 

Seperti Sapardi; Kau Bilang, “Boleh.”

Bolehkah kupeluk suara tertawamu tadi dengan bahasa puisi? Niscaya ia ruap seperti uap halus gelas-gelas kopi menyudahi kabut. Sesore ini hujan turun, Sayang. Tapi ingatan terang akan cerlang matamu jua yang mengelebat. Leleh dadaku.

Senyummu itu. Maka musnah segala sakit, segala nyeri. Yang ada tinggal manis. Pun.

 

Terbang. Terbang

Sayap tumbuh di kedua belah, perempuan pelahan mengangkat tubuhnya. Udara mengulir di poros kaki. Geliat bumi. Regang segala organ, otot, sendi, sel darah, terlontar dalam geletar yang regat di celat kesekian, regas hendak patah, hingga regah. Menghambur pada dekap. Serpih. Serpih.

Ringan saja perempuan melayang. Melekap semua partikel. Rindu-rindu reda di pelupuk matanya. Laun. Angkasa laksana laut tempat larung hela napas. Lenyap. Segara lirih berombak.

Perempuan. Tinggal. Senyap.

Sitir

Begitulah aku menghitung sejumlah malam dari semenjak jarum jam menghasut angka-angka. Baru sepertiga april berhandaian di lembaran kalender bergambar gadis kelabu pucat, berambut gemala. Gesau gelap bulan sabit, daunan kerlap seperti saat mata langit bertatap dengan meteor Lyrid. Hujan menderu di selatan. Samar bersahutan kabar di pucuk ilalang, coklat bebata, tanah merah, dan perdu-perdu belakang rumah. Sebentar riuh. Tempias tiba dan basuh.

Segala.

Di semayup mara dan pikatan ingatan, aku mengenang. Pohonan terna. Dan matamu.